Body Image

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Konsep diri sangat diperlukan untuk dapat memahami tentang manusia dan perilakunya. Tidak ada dua orang menusia sekalipun yang mempunyai konsep diri yang sama. Konsep diri muncul dan atau dipelajari berdasarkan pengalaman internal masing-masing individu, hubungan dengan orang lain, dan interaksi dengan dunia luar. Karena konsep diri merupakan bingkai atau frame bagi seseorang untuk berinteraksi dengan dunia, maka hal ini sangat mempengaruhi perilaku seseorang (Stuart dan Laraia, 2005). Konsep diri adalah sangat penting bagi kesehatan fisik dan mental seseorang. Individu dengan konsep diri yang positif akan menjadi lebih baik dan mampu mengembangkan dan memelihara hubungan antar sesama individu lainnya. Konsep diri memberi perasaan kontinuitas, lengkap/utuh dan kemantapan pada seseorang. Konsep diri yang sehat merupakan tingkatan tinggi dari kestabilan seseorang dan menyebabkan perasaan positif atau negatif terhadap dirinya di kemudian hari.

Konsep diri yang positif, memungkinkan seseorang untuk menemukan kebahagiaan dalam hidup, dan juga untuk mengatasi kekecewaan dan perubahan hidup. Kegagalan untuk mencapai suatu konsep diri yang positif merupakan kendala utama di dalam perawatan. Salah satu tanggung jawab utama perawat adalah mengidentifikasi konsep diri yang negatif dan untuk membantu dalam mengembangkan pandangan yang positif yang lebih dari diri klien. Orang-orang dengan konsep diri yang tidak sehat menyatakan perasaan tidak berharga, perasaan dibenci, dan selalu merasakan kesedihan yang mendalam dan juga mudah putus asa.

2. Tujuan

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari pembuatan makalah ini adalah diperoleh gambaran secara nyata dalam merawat pasien dengan gangguan body image.

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari pembuatan makalah ini adalah

  • Mampu mengidentifikasi masalah keperawatan yang muncul pada klien dengan gangguan body image.
  • Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan body image.
  • Mampu melakukan evaluasi atas tindakan yang telah dilakukan.
  • Mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan klien dengan body image.

BAB II

KONSEP DASAR

A. DEFINISI

Stuart dan Laraia (2005) mendefinisikan konsep diri sebagai keseluruhan ide, pikiran, kepercayaan dan keyakinan yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu tersebut dalam berhubungan dengan orang lain. Termasuk disini adalah persepsi individu terhadap sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan obyek, tujuan serta keinginnanya.

Menurut Potter dan Perry (1997), konsep diri adalah pengetahuan individu tentang dirinya sendiri, merupakan gambaran tentang diri dan gabungan kompleks dari perasaan, sikap, dan persepsi baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Konsep diri juga merupakan representasi psikis individu, pusat dari “Aku” yang dikelilingi dengan semua persepsi dan pengalaman yang terorganisir.

Konsep diri adalah kombinasi dinamis yang terbentuk selama bertahun tahun dan dipengaruhi juga oleh beberapa hal yaitu :

  1. Reaksi dari orang lain terhadap tubuh seseorang.
  2. Persepsi secara terus menerus dari reaksi dari seseorang terhadap diri.
  3. Hubungan dengan diri dan orang lain.
  4. Struktur kepribadian.
  5. Persepsi terhadap rangsang yang berakibat pada diri.
  6. Pengalaman masa lalu dan masa kini.
  7. Perasaan saat ini tentang fisik, emosi dan sosial diri.
  8. Harapan tentang diri.

Sedangkan menurut Rawlins et al (1993), konsep diri adalah gambaran konsep diri sebagai ide, perasaan dan kepercayaan untuk mengenal dan siap berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain serta berinteraksi dengan lingkungan. Kemudian dikatakan juga bahwa konsep diri dapat diartikan cara individu memandang dirinya secara utuh fisikal, mental, intelektual, sosial dan spiritual. Konsep diri dipelajari melalui kontak sosial dan pengalaman berhubungan dengan orang lain. Pandangan individu tentang dirinya dipengaruhi oleh bagaimana individu mengartikan pandangan orang lain tentang dirinya.

Salah satu fungsi keluarga adalah fungsi afektif yang berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial.

Tiap keluarga saling mempertahankan iklim yang positif. Hal tersebut dipelajari dan dikembangkan melalui interaksi dan hubungan dalam keluarga. Dengan demikian keluarga yang berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh anggota keluarga dapat mengembangkan konsep diri yang positif (Friedman, 1986).

Keluarga mempunyai peran yang penting dalam membantu perkembangan konsep diri terutama pada pengalamam masa kanak-kanak. Stuart dan Sundeen (1991) mengemukakan bahwa “pengalaman awal kehidupan dalam keluarga merupakan dasar pembentukan konsep diri. Keluarga dapat memberikan perasaan mampu atau tidak mampu, perasaan diterima atau ditolak, kesempatan untuk  diidentifikasi, penghargaan yang pantas tentang tujuan, perilaku dan nilai”.

Dapat disimpulkan, konsep diri merupakan aspek kritikal dan dasar dari perilaku individu. Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang terlihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan. Konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan individu dan social yang maladaptif.

Konsep diri sendiri, terbagi menjadi beberapa komponen, yaitu :

1. Citra tubuh (body image)

Citra tubuh adalah sikap, persepsi, keyakinan dan pengetahuan individu secara sadar atau tidak sadar terhadap tubuhnya, terdiri dari ukuran, bentuk, struktur, fungsi, keterbatasan, makna, obyek yang kontak secara terus menerus (anting, make up, lensa kontak, pakaian, kursi roda) baik masa lalu atau masa sekarang.

Citra tubuh adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar (Stuart dan Sundeen, 1991).

Sikap ini mencakup persepsi dan perasan tentang ukuran dan bentuk, fungsi, penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu.

Menurut Potter dan Perry (1997) citra tubuh adalah persepsi seseorang tentang tubuhnya , baik secara internal maupun eksternal. Citra tubuh dipengaruhi oleh pandangan seseorang tentang sifat-sifat fisik dan kemampuan yang dimiliki dan oleh persepsi orang lain terhadap dirinya.Citra tubuh dipengaruhi juga oleh perkembangan kognitif dan pertumbuhan fisik. Ukuran, bentuk, massa, struktur, fungsi dan arti penting tubuh beserta bagian-bagiannya bersifat dinamis dan sangat mungkin untuk berubah.

Citra tubuh mungkin berubah seiring perubahan yang terjadi pada anatomi tubuh dan kepribadian seseorang (Rawlins et al, 1993). Perkembangan dan perubahan normal yang terjadi seiring usia akan mempengaruhi gambaran diri seseorang. Citra tubuh saat usia sekolah akan berbeda dengan citra tubuh saat usia tua. Selain itu, budaya, sikap masyarakat dan nilai atau norma dalam masyarakat juga berpengaruh terhadap seseorang. Hal ini meliputi nilai-nilai kecantikan, kepercayaan ataupun kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun.

Citra tubuh berhubungan erat dengan kepribadian. Cara individu memandang diri mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologisnya. Pandangan yang realistis terhadap diri, menerima dan menyukai bagian tubuh akan mengurangi rasa cemas dan meningkatkan harga diri. Individu yang stabil, realistis dan konsisten terhadap realisasi yang akan memacu sukses didalam kehidupan individu dapat mengubah citra tubuh secara dinamis (Keliat, 1992).

 

2. Ideal diri (self-ideal)

Ideal diri adalah persepsi seseorang tentang bagaimana dia harus berperilaku sesuai dengan suatu standar tertentu. (Stuart dan Laraia, 2005)

Standar dapat berhubungan dengan tipe orang yang diinginkannya atau sejumlah aspirasi, tujuan atau nilai-nilai yang ingin dicapai. Ideal diri akan mewujudkan cita-cita dan harapan pribadi berdasarkan norma sosial, dimana seseorang berusaha untuk mewujudkannya. Pembentukan ideal diri dimulai sejak masa kanak-kanak dan sangat dipengaruhi oleh orang-orang disekitarnya yang memberikan keuntungan dan harapan-harapan tertentu. Pada masa remaja, ideal diri mulai terbentuk melalui proses identifikasi dari orang tua, guru dan teman.

Pada usia lanjut, dibutuhkan beberapa penyesuaian, tergantung pada kekuatan fisik dan perubahan peran serta tanggunga jawab.

Banyak faktor yang mempengaruhi ideal diri seseorang, masih menurut Stuart dan Laraia (2005), yang mempengaruhi ideal diri seseorang diantaranya adalah :

a. Seseorang cenderung menetapkan ideal diri sesuai dalam batas kemampuannya. Seseorang tidak akan mungkin menetapkan suatu ideal atau tujuan jika sekiranya dirinya tidak mempu mengupayakan diri untuk mencapai tujuan tersebut atau berada diluar batas kemampuannya.

b. Ideal diri juga dipengaruhi oleh faktor budaya, dimana seseorang akan membandingkan standar dirinya dengan teman sebayanya.

c. Ambisi dan keingunan untuk lebih unggul dan sukses, kebutuhan yang realistis, keinginan untuk menghindari kegagalan dan perasan cemas serta rendah diri.

Individu mampu berfungsi dan mendemonstrasikan kecocokan antara persepsi diri dan ideal diri, sehingga ia akan menyerupai apa yang diinginkan. Ideal diri hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi, tetapi masih lebih tinggi dari kemampuan agar tetap menjadi pendorong dan masih dapat dicapai (Keliat, 1992).

3. Harga diri (self-esteem)

Harga diri adalah perasaan tentang nilai, harga atau manfaat dari diri sendiri yang berasal dari kepercayaan positif atau negatif seorang individu tentang kemampuannya dan menjadi berharga (Fortinash et al, 1999).

Menurut Stuart dan Laraia (2005), harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang ingin dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri.

Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang tinggi. Jika individu selalu sukses maka cenderung harga diri tinggi. Jika individu sering gagal maka cenderung harga diri rendah (Keliat, 1992). Seseorang dengan harga diri tinggi dapat menerima orang lain, berekspresi tanpa cemas atau takut dan berfungsi efektif di lingkungan sosial.

Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Aspek utama adalah dicinta dan menerima penghargaan dari orang lain. Harga diri akan rendah jika kehilangan cinta dan seseorang kehilangan penghargaan dari orang lain. (Stuart dan Laraia, 2005).Harga diri yang rendah dapat berupa : mengkritik diri sendiri, perasaan tidak mampu, rasa bersalah, mudah tersinggung, pesimis, gangguan berhubungan (isolasi atau menarik diri) dan merusak diri. (Kelliat, 1992).

Keluarga dan masyarakat merupakan seperangkat standar yang biasa digunakan oleh seseorang yang akan mengevaluasi dirinya sendiri. (Potter dan Perry, 1997).

Keluarga sebagai sistem pendukung utama untuk membantu seseorang meningkatkan harga dirinya. Keluarga dan sistem pendukung sosial dapat membantu meningkatkan harga diri seseorang dengan cara :

a. Memberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaan.

b.  Menegaskan pentingnya klien.

c.  Menolong membuka perasaan negatif.

d. Memberi umpan balik perilaku.

e. Memberi rasa percaya dan keyakinan.

f. Memberi informasi yang dibutuhkan.

g.  Berperan sebagai pembela.

h. Memberi dukungan yang bervariasi : uang, bantuan fisik, material dan tanggunga jawab.

i.   Menghargai penilaian personal yang cocok terhadap kejadian.

4. Penampilan peran (role performance)

Penampilan peran adalah seperangkat perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu di berbagai kelompok sosial yang berbeda. Perilaku tersebut diharapkan dapat diterima oleh keluarga, masyarakat dan budaya. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak punya pilihan. Peran yang diterima adalah peran yang terpilih dan dipilih oleh individu. Setiap orang mempunyai peran lebih dari satu. Untuk dapat berfungsi efektif sesuai dengan perannya, seseorang harus tahu perilaku dan nilai-nilai yang diharapkan, harus berkeinginan untuk menyesuaikan diri dan harus mampu mencukupi peran yang dikehendaki. (Potter dan Perry, 1997).

 

 

Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang menyesuaikan diri dengan peran yang diterimanya adalah pengetahuan tentang peran yang diharapkan, respon yang konsisten dari orang lain terhadap peran, kecocokan dan kelengkapan berbagai peran, kesesuaian antara norma budaya dan harapan terhadap perilaku peran dan pemisahan situasi yang akan membuat perilaku peran yang bertentangan. (Stuart dan Laraia, 2005)

Posisi dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi diri. Posisi di masyarakat dapat merupakan stressor terhadap peran karena struktur sosial yang menimbulkan kesukaran, tuntutan, posisi yang tidak mungkin dilaksanakan (Keliat, 1992).

 

5. Identitas diri (selfidentity)

Identitas diri adalah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian, yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sebagai suatu kesatuan yang utuh. (Stuart dan Sundeen, 1991)

Identitas diri adalah komponen dari konsep diri yang memungkinkan individu untuk memelihara pendirian yang konsisten dan karenanya memungkinkan seseorang untuk menempati posisi yang stabil di lingkungannya.

Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat akan memandang dirinya berbeda dengan orang lain, unik dan tidak ada duanya. Kemandirian timbul dari perasaan berharga, kemampuan dan penguasaan diri. Seseorang yang mandiri dapat mengatur dan menerima dirinya.(Keliat, 1992)

Salah satu dasar persepsi seseorang terhadap kecukupan peran yang diterimanya adalah ego yang menyertai peran, berkembang sesuai dengan harga diri. Harga diri yang tinggi adalah hasil dari pemenuhan kebutuhan peran dan sejalan dengan ideal diri seseorang. (Stuart dan Laraia, 2005)

 

B. TAHAP PERKEMBANGAN KONSEP DIRI
Menurut teori psikososial, perkembangan konsep diri dapat dibagi ke dalam beberapa tahap, yaitu:

Ø 1-2Tahun
Menumbuhkan rasa percaya dari konsistensi dalam interaksi pengasuhan dan pemeliharaan yang dilakukan oleh orang tua atau orang lain.
Membedakan dirinya dari lingkungan.

Ø 3-4 Tahun
Mulai menyatakan apa yang disukai dan apa yang tidak disukai.
Meningkatkan kemandirian dalam berpikir dan bertindak.

Menghargai penampilan dan fungsi tubuh.
Mengembangkan diri dengan mencontoh orang yang dikagumi, meniru dan bersosialisasi.

Ø 5-6 Tahun
Memiliki inisiatif.
Mengenali jenis kelamin.
Meningkatnya kesadaran diri.
Meningkatkan keterampilan berbahasa, termasuk pengenalan akan perasaan seperti senang, kecewa dan sebagainya.
Sensitif terhadap umpan balik dari keluarga.

Ø 6-12 Tahun
Menggabungkan umpan balik dari teman sebaya dan guru, keluarga tidak lagi dominan.

Meningkatnya harga diri dengan penguasaan keterampilan baru (misalnya membaca, matematika, olahraga, musik).
Menguatnya identitas seksual.
Menyadari kekuatan dan kelemahan.

Ø 12-20 Tahun
Menerima perubahan tubuh atau kedewasaan.
Belajar tentang sikap, nilai dan keyakinan; menentukan tujuan masa depan.
Merasa positif atas berkembangnya konsep Berinteraksi dengan orang-orang yang menurutnya menarik secara seksual. dan intelektual.

Ø 20-40 Tahun
Memiliki hubungan yang intim dengan keluarga dan orang lain.
Memiliki perasaan yang stabil dan posotif mengenai diri.
Mengalami keberhasilan transisi peran dan meningkatnya tanggung jawab.

Ø 40-60 Tahun
Dapat menerima perubahan penampilan dan ketahanan fisik.
Mengevaluasi ulang tujuan hidup.
Merasa nyaman dengan proses penuaan.

Ø Di Atas 60 Tahun
Merasa positif mengenai hidup dan makna kehidupan.
Berkeinginan untuk meninggalkan warisan bagi generasi berikutnya.

C. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOSEP DIRI

1. Lingkungan
Lingkungan yang dimaksud disini adalah lingkungan fisik dan psikologis. Lingkungan fisik adalah segala sarana yang dapat menunjang perkembangan konsep diri, sedangkan lingkungan psikologis adalah segala lingkungan yang dapat menunjang kenyamanan dan perbaikan psikologis yang dapat memengaruhi perkembangan konsep diri.

2. PengalamanMasaLalu
Adanya umpan balik dari orang-orang penting, situasi stresor sebelumnya, pernghargaan diri dan pengalama sukses atau gagal sebelumnya, pengalaman penting dalam hidup, atau faktor yang berkaitan dengan masalah stresor, usia, sakit yang diderita, atau trauma, semuanya dapat memengaruhi perkembangan konsep diri.

3. Tingkat Tumbuh Kembang
Adanya dukungan mental yang cukup akan membentuk konsep diri yang cukup baik. Sebaliknya, kegagalan selama masa tumbuh kembang akan membentuk konsep diri yang kurang memadai.

D. Gangguan Konsep Diri

Gangguan konsep diri adalah suatu kondisi dimana individu mengalami kondisi pembahasan perasaan, pikiran atau pandangan dirinya sendiri yang negatif.

a. Gangguan Citra Tubuh

Tanda dan gejala gangguan citra tubuh :

  1. Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah.
  2. Tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau akan terjadi.
  3. Menolak penjelasan perubahan tubuh.
  4. Persepsi negatif pada tubuh.
  5. Preokupasi dengan bagian tubuh yang hilang.
  6. Mengungkapkan keputusasaan.
  7. Mengungkapkan ketakutan.

b. Gangguan Ideal Diri
Tanda dan gejala gangguan ideal diri :

  1. Mengungkapkan keputusan akibat penyakitnya, misalnya : saya tidak bisa ikut ujian karena sakit, saya tidak bisaa lagi jadi peragawati karena bekas operasi di muka saya, kaki saya yang dioperasi membuat saya tidak main bola.
  2. Mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi, misalnya saya pasti bisa sembuh pada hal prognosa penyakitnya buruk; setelah sehat saya akan sekolah lagi padahal penyakitnya mengakibatkan tidak mungkin lagi sekolah.

c. Gangguan Harga Diri

Tanda dan gejala:

  1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakti dan akibat tindakan terhadap penyakit.
  2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri. Misalnya ini tidak akan terjadi jika saya segera kerumah sakit, menyalahgunakan/mengejek dan mengkritik diri sendiri.
  3. Merendahkan martabat. Misalnya saya tidak bisa, saya tidak mampu saya orang bodoh dan tidak tahu apa-apa.
  4. Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri. Klien tidak ingin bertemu dengan orang lain, lebih suka sendiri.
  5. Percaya diri kurang. klien sukar mengambil keputusan, misalnya tentang memilih alternatif tindakan.

d. Gangguan Peran

Tanda dan gejala gangguan peran :

  1. Mengingkari ketidakmampuan menjalankan peran.
  2. Ketidakpuasan peran.
  3. Kegagalan menjalankan peran yang baru.
  4. Ketegangan menjalankan peran yang baru.
  5. Kurang tanggung jawab.
  6. Apatis atau bosan,jenuh dan putus asa.

e. Gangguan Identitas

Tanda dan gejala :

  1. Tidak ada percaya diri.
  2. Sukar mengambil keputusan.
  3. Ketergantungan.
  4. Masalah dalam hubungan interpersonal.
  5. Ragu atau tidak yakin terhadap keinginan.
  6. Projeksi (menyalahkan orang lain).

 

E. Pengaruh perawat pada konsep diri klien

Penerimaan perawat terhadap klien dengan perubahan konsep diri membantu menstimulasi rehabilitasi yang positif. Klien yang penampilan fisiknya telah mengalami perubahan dan yang harus beradaptasi terhadap citra tubuh yang baru, hampir pasti baik klien maupun keluarganya akan melihat pada perawat dan mengamati respons dan reaksi mereka terhadap situasi yang baru. Dalam hal ini perawat mempunyai dampak yang signifikan.

Rencana keperawatan yang dirumuskan untuk membantu klien dengan perubahan konsep diri dapat ditingkatkan atau digagalkan oleh nilai dan perasaan bawah sadar perawat.

Penting artinya bagi perawat untuk mengkaji dan mengklarifikasi hal-hal berikut mengenai diri mereka :

Perasaan perawat sendiri mengenai kesehatan dan penyakit

Bagaimana perawat bereaksi terhadap stres

Kekuatan komunikasi nonverbal dengan klien dan keluarganya dan bagaimana hal tersebut ditunjukkan.Nilai dan harapan pribadi apa yang ditunjukkan dan mempengaruhi klien.Bagaimana pendekatan tidak menghakimi dapat bermanfaat bagi klien

Untuk menciptakan hubungan antara perawat dan pasien diperlukan komunikasi yang akan mempermudah dalam mengenal kebutuhan pasien dan menentukan rencana tindakan serta kerja sama dalam memenuhi kebutuhan tersebut.Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk untuk kesembuhan pasien. Tujuan komunikasi terapeutik itu sendiri adalah :

1. Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal yang diperlukan.

2. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.

3. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri.

Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan suasana yang memungkinkan pasien bebas berkembang tanpa rasa kuat.Perawat harus dapat menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya sendiri baik sikap, tingkah lakunya sehingga tumbuh makin matang dan dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.

Mampu menetukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan konsistensinya.

Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik.Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukkan dan meyakinkan orang lain tentang kesehatan, oleh karma itu perawat perlu mempertahankan suatu keadaan sehat fisik mental, spiritual dan gaya hidup.

Bertanggung jawab dalam dua hal yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri atas tindakan yang dilakukan dan tanggung jawab terhadap orang lain.Adapun masalah-masalah yang dihadapi seseorang yang berhubungan dengan konsep diri adalah sebagai berikut :

1. Kehilangan

Kehilangan (loss) adalah suatu situasi actual meupun potensial yang dapat dialami individu ketika berpisah dengan suatu yang sebelumnya ada, baik sebagian atau keseluruhan.

Atau terjadi perubahan dalam hidup sehingga terjadi perasaan kehilangan.Kehilangan dapat berupa kehilangan yang nyata (actual loss) yaitu kehilangan orang atau obyek yang tidak lagi bisa dirasakan, dilihat, diraba atau dialami oleh seseorang dan kehilangan yang dirasakan (perceived loss) yaitu kehilangan yang sifatnya unik menurut orang yang mengalami kedukaan.

2. Berduka

Berduka (grieving) merupakan reaksi emosional terhadap kehilangan. Adapun jenis berduka yaitu :

Berduka normal terdiri atas perasaan, perilaku, dan reaksi yang normal terhadap kehilangan.Berduka antisipatif yaitu proses melepaskan diri yang muncul sebelum kehilangan atau kematian yang sesungguhya terjadi.Berduka yang rumit dialami oleh seseorang yang sulit untuk maju ketahap berikutnya.Berduka tertutup yaitu kedukaan akibat kehilangan yang tidak dapat diakui secara terbuka.

 

 

 

 

 

 

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

 

1. Pengkajian

a. Individual

  • Umur dan jenis kelamin
  • Kelompok religius : kehadiran di tempat ibadah, pentingnya agama dalam kehidupan pasien, kepercayaan akan kehidupan setelah kematian
  • Tingkat pengetahuan atau pendidikan. Cara individu untuk mengakses informasi.
  • Pola komunikasi dengan orang terdekat, dengan pemberi perawatan. Bagaimana gaya bicaranya?
  • Persepsi akan tubuh dan fungsi-fungsinya. Pada waktu sehat? Pada waktu sakit? Pada waktu sakit sekaranng?
  • Bagaimana pasien merasakan dan menentukan sakit.
  • Bagaimana pasien mengalami penyakit dan bagaimana sebenarnya penyakitnya.
  • Tingkah laku pada waktu cemas, takut, tidak sabar ataupun marah.

b. Orang-orang terdekat

  • Status perkawinan. Siapakah orang terdekat? Kerabat dekat? Kerabat jauh? Hubungan yang berpola dan berulang?
  • Siklus perkembangan keluarga: baru menikah? Anak-anak? (muda, remaja, meninggalkan/kembali ke rumah) pensiun?
  • Bagaimana pengaruh orang terdekat terhadap penyakit dan prognosa?
  • Proses interaksi apakah yang terdapat dalam keluarga?

c. Sosioekonomi

  • Pekerjaan : keuangan
  • Faktor-faktor lingkungan; rumah, pekerjaan dan rekreasi
  • Keluar dari lingkungan umum (pada waktu liburan, kunjungan)
  • Kelas sosial; sistem nilai.
  • Penerimaan sosial akan penyakit/kondisi (misalnya PHS, HIV, obesitas, kecanduan substansi tertentu)

d. Kultural

  • Latar belakang etis
  • Nilai-nilai yang berhubungan dengan kesehatan dan perawatan.
  • Faktor-faktor kultural yang dihubungkan dengan penyakit secara umum dan respons terhadap rasa sakit.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Gangguan konsep diri : citra tubuh negatif

Definisi: kondisi dimana seseorang mengalami kerusakan atau tidak mau menerima keadaan tubuhnya.

Kemungkinan berhubungan dengan:

  • Perubahan menetap pada tubuh pasien.
  • Amputasi
  • Luka bakar
  • Efek pengobatan.

Kemungkinan data yang ditemukan:

  • Secara verbal mengatakan membenci/tidak menyukai bagian tubuhnya
  • Menghindari bagian tubuh tertentu
  • Perubahan struktur atau fungsi tubuh
  • Perasaan negatif terhadap bagian tubuhnya

Kriteria hasil:

    • Pasien dapat menerima keadaan tubuhnya secara proporsional
    • Pasien dapat beradaptasi dengan keadaan tubuhnya

Intervensi :

1. Binalah hubungan saling percaya.

Rasional : Dasar mengembangkan tindakan keperawatan.

2. Kajilah penyebab gangguan citra tubuh.

Rasional : Merencanakan intervensi lebih lanjut.

3. Eksplorasi aktivitas baru yang dapat dilakukan.

Rasional : Memfasilitasi dengan memanfaatkan kelebihan.

4. Perhatikan perilaku menarik diri, membicarakan diri tentang hal negatif, penggunaan peny angkalan atau terus menerus melihat perubahan nyata atau yang diterima.

Rasional : Mengidentifikasi tahap berduka atau kebutuhan untuk intervensi.

5. Dorong ekspresi ketakutan; perasaan negatif, dan kehilangan bagian tubuh.

Rasional : Ekspresi emosi membantu pasien mulai menerima kenyataan dan realitas hibup tanpa tungkai.

b. Ansietas/ketakutan

Definisi: perasaan tidak menyenangkan disebabkan oleh sumber yang dapat diidentifikasi oleh pasien.

Kemungkinan berhubungan dengan:

  • Konflik yang tidak disadari mengenai nilai-nilai esensial.
  • Krisis situasional dan maturasional; transmisi dan penularan interpersonal.
  • Ancaman terhadap konsep diri; ancaman kematian;ancaman kehilangan bagian dan fungsi tubuh.

Kemungkinan data yang ditemukan:

  • Keluhan peningkatan tegangan ; perasaan tidak dapat ditolong.
  • Menunjukan perhatian mengenai perubahan di dalam peristiwa kehidupan; ketakutan akan masalah yang tidak teridentifikasi yang dikenali oleh pasien; ketakutan akan konsekuensi yang tidak spesifik.
  • Fokus pada diri sendiri; tingkah laku yang melawan atau bertingkat.

Kriteria hasil:

  • Pasien memahami dan mendiskusikan rasa takut.
  • Menunjukkan pemecahan masalahdan menggunakan sumber-sumber secara efektif.

Intervensi :

1. Pahami rasa takut atau ansietas Validasi observasi dengan pasien, misalnya, ”apakah Anda takut?”

Rasional : Perasan adalah nyata dan membantu pasien untuk terbuka sehingga dapat mendiskusikann dan menghadapinya.

2. Catat Pembatasan fokus perhatian (mis.,konsentrasi pasien terhadap suatu hal pada waktu tertentu).

Rasional : Penyempitan vokus umumnya merefleksikan rasa takut atau kepanikan yang luar biasa.

3. Identifikasi persepsi pasien/orang terdekat terhaadap situasi.

Rasional : Tanpa memperhatikan realitas situasi, persepsi akan mempengaruhi bagaimana setiap individu menghadapi penyakit atau stres.

4. Pertahankan kontak sering dengan pasien atau orang tedekat. Selalu sedia untuk mendengarkan dan bicara jika dibutuhkan.

Rasional : Memantapkan hubungan, meningkatkan ekspresi perasaan dan membantu pasien dan orang tedekat untuk melihat realitas dari penyakit atau pengobatan tanpa mengemukakan masalah yang belum untuk dihadapi.

5. Nyatakan realita dari situasa seperti apa yang dilihat pasien. Tanpa mempertanyakan apa yang dipercaya.

Rasional : Pasien mungkin perlu menolak realitas sampai siap untuk menghadapinya. sangat tidak berguna untuk memaksa pasien menghadapi kenyataan.

C. Harga diri rendah

Dapat dihubungkan dengan:

  • Biofisik, psikososial, persepsi kognitif, kultural dan/atau krisis spiritual, misalnya perubahan penampilan.
  • Merasakan/mengantisipasi kegagalan pada peristiwa-peristiwa kehidupan.

Kemungkinan data yang ditemukan:

  • Menunjukan perasaan yang negatif mengenai perasaan diri; fokus pada kemampuan masa lalu, kekuatan, fungsi, atau penampilan; preokupasi dengan perubahan/kehilangan.
  • Evaluasi diri pada waktu tidak mampu untuk mengatasi situasi/peristiwa.
  • Rasa takut ditolak/reaksi dari orang lain.

Kriteria hasil:

  • Mengenali dan memasukan perubahan kedalam konsep diri dalam cara yang akurat tanpa mengabaikan pemahaman diri.
  • Menunjukan adaptasi terhadap perubahan atau peristiwa yang dibuktikan dengan mempersiapkan keberhasilan realitis dan partisipasi aktif dalam bekerja/bermain/ hubungan personal.

Intervensi :

1. Identifikasi orang terdekat dari siapa pasien memperoleh kenyamanan dan siapa yang harus memberitahukan jika terjadi keadaan bahaya.

Rasional : Memungkinkan privasi untuk hubungan personal khusus, untuk mengunjungi atau untuk tetap dekat dan menyediakan kebutuhan dukungan bagi pasien.

2. Dengarkan secara aktif masalah dan ketakutan pasien.

Rasional : Menyampaikan perhatian dan dapat dengan lebih efektif mengidentifikasi kebutuhan dan masalah dan juga strategi koping pasien dan seberapa efektif. Memberi kesempatan untuk meniru dan memulai proses memecahkan masalah.

3. Dorong pengungkapan perasaan, menerima apa yang dikatakannya.

Rasional : Membantu pasien atau orang terdekat untuk memulai menerima perubahan dan mengurangi ansietas mengenai perubahan fungsi atau gaya hidup.

4. Amati komunikasi nonverbal, misalnya postur tubuh dan gerakannya, kontak mata , sikap, sentuhan.

Rasional : Bahasa nonverbal adalah bagian yang besar dari komunikasi dan oleh karena itu sangat penting. Bagaimana orang menggunakan sentuan untuk menggunakan sentuhan untuk menyediakan informasi mengenai bagaimana hal itu diterima dan senyaman apakan individu itu waktu disentuh.

5. Kenali langkah-langkah adaptasi pasien untuk menentukan situasi saat ini.

Rasional : kegagalan dalam menyediakan kebutuhan pasien dalam menunjukan kurangnya pemahaman pribadi sebagai individu dan mungkin mengakibatkan timbulnya rasa rendah diri.

BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Body image atau konsep diri adalah semua perasaan, kepercayaan dan nilai yang diketahui individu tentang dirinya   dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain. Konsep diri berkembang secara bertahap saat bayi mulai mengenal dan membedakan dirinya dengan orang lain. Pembentukan konsep diri ini sangat dipengaruhi oleh asuhan orang tua dan lingkungan.

Harga diri berasal dari dua sumber, yaitu diri sendiri dan orang lain. Harga diri bergantung pada kasih sayang dan penerimaan. Harga diri mencakup penerimaan diri sendiri karna nilai dasar, meski lemah dan terbatas.

Secara umum konsep diri adalah semua tanda, keyakinan dan pendirian yang merupakan suatu pengetahuan individu tentang dirinya yang dapat mempengaruhi hubungannya dengan orang lain, termasuk karakter, kemampuan, nilai, ide, dan tujuan.

Saran

Memepermudah seorang perawat dalam membangun konsep dirinya sendiri yang positif.

DAFTAR PUSTAKA

Marilynn E Doenges, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 8. ECG :Jakarta

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta:Salemba Medika.
Carpenito, Lynda Juall dan moyet. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 10. Jakarta:EGC
Rohmah, Nikmatur dan Syaiful Walid. 2009. Proses Keperawatan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: